news

Pemuda Sant’Egidio berpesta bersama pengungsi, sebuah pertemuan di antara bangsa dan budaya, untuk membangun jembatan solidaritas, bukannya tembok pemisah.

19 Maret 2019

Berbagi Di

Di seluruh dunia, kita menyaksikan bahwa semakin banyak tembok pemisah yang dibangun untuk menghalangi masuknya pengungsi, bukan hanya tembok fisik, tetapi juga tembok ketakutan, kecurigaan, kebencian, dan tembok ideologis. Sebagai satu keluarga manusia sudah sepatutnya kita berjuang untuk membangun jembatan-jembatan solidaritas, bukannya tembok pemisah.

Menurut data UNHCR, ada sekitar 14.000 pengungsi di Indonesia. Di Jakarta, pengungsi lintas negara tersebar di beberapa titik, seperti: Kalideres, Petamburan, Pasar Minggu, Ciputat, dll. Realitas hidup para pengungsi lintas negara di Indonesia sering menghadapi perjuangan untuk bertahan hidup. UNHCR sudah menginformasikan kepada para pengungsi, bahwa perpindahan tempat tinggal ke negara ketiga menjadi kecil kemungkinannya, dan mereka harus berusaha sebaik mungkin untuk membaur ke dalam masyarakat Indonesia.

Menanggapi isu ini, Komunitas Sant’Egidio Jakarta, sejak setahun terakhir ini telah memulai langkah-langkah untuk mendekati, memahami, dan menjalin persahabatan dengan beberapa pengungsi yang tersebar di Jakarta. Pada kenyataan, realitas hidup para pengungsi sangatlah tidak berdaya, tersingkir, dan penuh dengan keterbatasan dalam memenuhi hak atas makanan, tempat tinggal, serta fasilitas hidup yang layak dan bermartabat. Dalam situasi hidup yang jauh dari kenyamanan, pengungsi membutuhkan sentuhan hati: butuh didengarkan, butuh ditemani, dan butuh dorongan semangat hidup.

Paus Fransiskus menyatakan bahwa “Kita berjumpa dengan Yesus pada diri mereka yang miskin, ditolak, atau para pengungsi. Jangan biarkan rasa takut menghalangi kita untuk menyambut mereka yang membutuhkan”.

Dengan mengimani ajakan Paus Fransiskus, Komunitas Sant’Egidio tergerak untuk bermisi dengan memberi dukungan dan hati bagi mereka yang merupakan jalan terbaik untuk membantu mereka bangkit dari pengalaman traumatis menuju hidup yang penuh pengharapan, lewat pesta solidaritas bersama pengungsi dengan tema “Jangan Berhenti Berharap”. Untuk kita, kami mengundang semua orang muda datang ke pesta ini yang akan diselenggarakan: Hari Minggu, 24 Maret 2019,bertempat di Rumah Komunitas (Jl. Kaji no.20), jam 10.00wib.

Acara ini gratis, bagi teman-teman yang tertarik atau ingin mendapatkan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:
Yoan (081287112477)
Tanny (087788203000)